Cerpen AK Basuki
Lelaki jangkung berwajah
terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya.
Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang
tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat
dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung
menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas
balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk,
tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon
cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat
mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah
membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan
kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah
sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah
karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru
di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di
kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf
karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.