Sumarsih namanya. Wajahnya oval, kulit langsat, dan berhidung
mancung. Dia manis sekali, apalagi bila sedang tersenyum padaku. Kontan
saja aku bisa melupakan Sugiarsih, cinta (monyet) pertamaku. Sungguh.
Apalagi bila melihat tubuh langsing itu melangkah dengan gemulai, oi,
Mak, alangkah cindonya gadis satu ini. Terlebih gadis berambut panjang
sepinggang ini menunjukkan rasa suka padaku juga. Ya, setidaknya
begitulah yang kurasa. Setidaknya dia tidak menaruh kebencian padaku.
Dia
tinggal di tempat bibinya, persis di sebelah rumahku. Kedua orang
tuanya di Wonosari III, sekitar lima kilometer dari Pagarsari. Dia
sekolah di T Bangunsari sementara aku sekolah di SDN 1 Sumbersari. Pagi
belajar di sekolah masing-masing tetapi siang dan sore bahkan malam hari
kami biasa bertemu dan bermain bersama. Ya, tentu tidak bermain berdua
saja. Banyak seumur yang tinggal dekat rumahku dan biasa bermain
bersama. Ada Bibit, Trino, Boinem, Wahini, Rianti dan lain-lain. Bersama
mereka aku sering belajar kelompok dan mengerjakan PR, bermain gobak
sodor pada malam hari (terutama saat bulan sedang purnama), mencari
ranting kayu di kebun dan lain-lain.
Aku menyukai Sumarsih dan
sebaliknya. Aku dan dia cukup dekat meskipun tidak selalu berdua. Kami
biasa melakukan berbagai kegiatan bersama, misalnya : mengaji di Mesjid,
nonton tv di rumah Mbah Pujo, nonton layar tancap dan lain-lain.
Seringkali dia tidak ikut kegiatan apabila aku tidak ada, tidak ikut.
Dia pernah bilang bahwa aku baik, suka membantu dan tidak berusaha jahil
seperti teman-teman yang lain.
Sayang sekali setelah menamatkan
sekolah dasar dia kembali ke rumah orang tuanya. Dia pernah mengatakan
bahwa sebenarnya dia ingin tetap di sini bersamaku, tetapi ada lelaki
lain yang umurnya jauh lebih tua darinya, yang tentu saja kurang
disukainya, yang selalu berusaha mendekati dan mendesaknya menikah. Dia
tidak kuat dan merasa lebih baik bila berada di dekat ayah bundanya. Dan
pergila dia. Aku yang ditinggalkan merasakan rindu, haru bahkan pilu
yang tiada tara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar