Selasa, 19 Juni 2012

Dia Pun Pergi

Sumarsih namanya. Wajahnya oval, kulit langsat, dan berhidung mancung. Dia manis sekali, apalagi bila sedang tersenyum padaku. Kontan saja aku bisa melupakan Sugiarsih, cinta (monyet) pertamaku. Sungguh. Apalagi bila melihat tubuh langsing itu melangkah dengan gemulai, oi, Mak, alangkah cindonya gadis satu ini. Terlebih gadis berambut panjang sepinggang ini menunjukkan rasa suka padaku juga. Ya, setidaknya begitulah yang kurasa. Setidaknya dia tidak menaruh kebencian padaku.

Dia tinggal di tempat bibinya, persis di sebelah rumahku. Kedua orang tuanya di Wonosari III, sekitar lima kilometer dari Pagarsari. Dia sekolah di T Bangunsari sementara aku sekolah di SDN 1 Sumbersari. Pagi belajar di sekolah masing-masing tetapi siang dan sore bahkan malam hari kami biasa bertemu dan bermain bersama. Ya, tentu tidak bermain berdua saja. Banyak seumur yang tinggal dekat rumahku dan biasa bermain bersama. Ada Bibit, Trino, Boinem, Wahini, Rianti dan lain-lain. Bersama mereka aku sering belajar kelompok dan mengerjakan PR, bermain gobak sodor pada malam hari (terutama saat bulan sedang purnama), mencari ranting kayu di kebun dan lain-lain.
Aku menyukai Sumarsih dan sebaliknya. Aku dan dia cukup dekat meskipun tidak selalu berdua. Kami biasa melakukan berbagai kegiatan bersama, misalnya : mengaji di Mesjid, nonton tv di rumah Mbah Pujo, nonton layar tancap dan lain-lain. Seringkali dia tidak ikut kegiatan apabila aku tidak ada, tidak ikut. Dia pernah bilang bahwa aku baik, suka membantu dan tidak berusaha jahil seperti teman-teman yang lain.
Sayang sekali setelah menamatkan sekolah dasar dia kembali ke rumah orang tuanya. Dia pernah mengatakan bahwa sebenarnya dia ingin tetap di sini bersamaku, tetapi ada lelaki lain yang umurnya jauh lebih tua darinya, yang tentu saja kurang disukainya, yang selalu berusaha mendekati dan mendesaknya menikah. Dia tidak kuat dan merasa lebih baik bila berada di dekat ayah bundanya. Dan pergila dia. Aku yang ditinggalkan merasakan rindu, haru bahkan pilu yang tiada tara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar